Punk Rock is My Religion: Straight Edge Punk and ‘Religious’ Identity

Judul buku: Punk Rock is My Religion: Straight Edge Punk and ‘Religious’ Identity
Penulis: Francis Stewart
Penerbit: Routledge. New York & London
Tahun: 2017
ISBN: 978-1-4724-8966-1 (hardcover) & 978-1-315-18256-8 (e-book)
Buku ini pada dasarnya merupakan pengembangan dari penelitian doktoral Stewart yang didasarkan pada kerja lapangan selama 2009–2015 di Amerika Serikat, Inggris, dan Irlandia. Stewart sendiri bukan pengamat yang sepenuhnya berada di luar objek penelitian. Ia merupakan seorang akademisi studi agama sekaligus seorang Straight Edge dan anarcho-punk. Posisi tersebut menjadi salah satu karakteristik paling penting dari buku ini karena penelitian tidak hanya dilakukan terhadap sebuah komunitas, tetapi juga dari dalam komunitas tersebut. Stewart secara eksplisit menyebut buku ini sebagai karya akademik, bukan dokumenter tentang punk, dan berusaha menempatkan teori serta suara para anggota subkultur dalam posisi yang relatif seimbang. Judul buku ini sendiri sudah mengandung provokasi intelektual. Pernyataan “Punk Rock Is My Religion” terdengar seperti sebuah slogan yang bertentangan dengan pengertian umum mengenai punk sebagai subkultur yang sering diasosiasikan dengan pemberontakan terhadap institusi, termasuk institusi agama. Namun justru paradoks itulah yang menjadi titik berangkat utama Stewart. Pertanyaan yang ingin dijawab bukan semata-mata apakah Straight Edge merupakan agama dalam pengertian konvensional, melainkan bagaimana fungsi-fungsi yang selama ini diasosiasikan dengan agama dapat muncul di luar institusi agama. Dengan kata lain, Stewart tidak sekadar memindahkan label “agama” kepada punk. Ia ingin mempertanyakan kembali apa yang dimaksud dengan agama, spiritualitas, yang sakral, yang profan, dan yang sekuler.
Buku ini berangkat dari fenomena Straight Edge, sebuah bagian dari kultur hardcore punk yang secara umum dikenal melalui komitmen untuk tidak mengonsumsi alkohol, narkoba, dan melakukan seks. Stewart melihat bahwa prinsip-prinsip tersebut tidak hanya merupakan pilihan gaya hidup individual. Bagi sebagian pengikutnya, Straight Edge menjadi dasar pembentukan identitas, komunitas, moralitas, solidaritas, bahkan pengalaman yang oleh mereka sendiri disebut spiritual. Buku tersebut karena itu menempatkan Straight Edge sebagai kasus yang memungkinkan kita melihat bagaimana manusia modern mencari makna, komunitas, disiplin diri, keselamatan, dan rasa memiliki di luar institusi agama tradisional. Stewart menjelaskan sejak awal bahwa tujuan utamanya adalah menunjukkan bahwa bentuk- bentuk perilaku dan afiliasi religius tradisional dapat ditolak dan digantikan oleh nilai-nilai yang ditemukan dalam berbagai ruang dan pengalaman, termasuk budaya populer. Nilai-nilai tersebut mencakup DIY, autentisitas, pemberontakan, komunitas, simbolisme, individualitas, dan keselamatan.
Oleh karena itu, buku ini tidak sebaiknya dibaca sebagai sejarah Straight Edge semata. Sejarah punk dan Straight Edge memang mendapatkan porsi penting, tetapi sejarah tersebut berfungsi sebagai landasan untuk argumentasi yang lebih luas mengenai agama dan identitas. Stewart ingin menunjukkan bahwa dalam masyarakat Barat kontemporer, batas antara agama dan sekularitas tidak lagi sesederhana yang sering diasumsikan. Pengalaman yang memiliki kualitas sakral dapat muncul dalam konser musik, komunitas, tubuh, tato, persahabatan, etika hidup, bahkan dalam tindakan menolak konsumsi tertentu.
Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada cara Stewart memulai argumentasinya dari pengalaman personal. Dalam bagian pendahuluan, ia menceritakan pengalamannya menghadiri pertunjukan Anti-Flag pada 2005. Di tengah pertunjukan, Chris #2 mengajak penonton yang tidak saling mengenal untuk berjabat tangan dan membuat teman baru. Stewart mengikuti ajakan tersebut dan merasakan adanya sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kesenangan menonton konser. Pengalaman tersebut kemudian mendapatkan bentuk konseptual ketika ia membaca Dharma Punx karya Noah Levine. Dari sini Stewart mulai bertanya apakah terdapat dimensi spiritual dalam hardcore punk dan Straight Edge. Ia kemudian menemukan bahwa pengalaman tersebut ternyata bukan miliknya sendiri. Banyak anggota Straight Edge yang diwawancarainya mengakui adanya dimensi spiritual dalam musik dan komunitas mereka, meskipun mereka tidak menghubungkannya dengan institusi agama tertentu.
Bagian tersebut penting karena memperlihatkan bahwa proyek Stewart tidak lahir dari keinginan akademis untuk memaksakan konsep agama kepada punk. Pertanyaan penelitian muncul dari pengalaman yang dialami oleh peneliti sendiri dan kemudian diuji melalui percakapan dengan anggota komunitas. Stewart bahkan mengakui bahwa buku ini tidak menawarkan jawaban definitif. Ia mengatakan bahwa penelitian tersebut tidak menjanjikan “lebih banyak jawaban daripada pertanyaan”, tetapi diberikan dalam semangat percakapan, pengalaman bersama, dan ketertarikan terhadap kisah hidup orang lain. Sikap tersebut menjadi penting karena memungkinkan pembaca melihat buku ini bukan sebagai usaha untuk memberikan definisi final tentang Straight Edge, tetapi sebagai eksplorasi terhadap pengalaman hidup yang sulit ditempatkan dalam kategori-kategori akademik yang kaku. Straight Edge sebagai ruang pembentukan identitas.
Untuk memahami argumen Stewart, pembaca terlebih dahulu harus memahami apa yang dimaksud dengan Straight Edge. Buku ini menjelaskan Straight Edge sebagai perkembangan tertentu dari hardcore punk yang muncul sebagai reaksi terhadap hedonisme dan perilaku destruktif yang diasosiasikan dengan sebagian kultur punk pada awal 1980-an. Salah satu figur sentral dalam narasi tersebut adalah Ian MacKaye dari Minor Threat. Stewart mengutip MacKaye ketika menjelaskan bahwa punk pada awalnya menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang merasa tidak sesuai dengan masyarakat dominan. Mereka adalah orang-orang yang merasa berbeda karena keluarga, seksualitas, psikologi, politik, atau berbagai alasan lainnya. Mereka kemudian membangun sebuah ruang budaya sendiri. Dalam konteks tersebut, Straight Edge dapat dipahami sebagai upaya untuk membangun identitas melalui pilihan hidup. Identitas bukan sekadar sesuatu yang dimiliki seseorang, melainkan sesuatu yang terus-menerus dilakukan. Di sinilah konsep performativitas menjadi penting. Stewart menggunakan pemikiran Judith Butler untuk menunjukkan bahwa identitas dibentuk melalui praktik yang berulang. Menjadi Straight Edge berarti terus melakukan dan mengulangi tindakan yang menunjukkan bahwa seseorang adalah Straight Edge: tidak menggunakan alkohol dan narkoba, menjaga gaya hidup tertentu, menghadiri pertunjukan, menggunakan simbol tertentu, memiliki relasi dengan komunitas, dan dalam banyak kasus menggunakan tato atau tanda “X” pada tubuh. Tato menjadi salah satu contoh menarik. Stewart menunjukkan bahwa simbol Straight Edge pada tubuh tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi. Tubuh menjadi media untuk menyatakan identitas sekaligus sejarah diri. Stewart menjelaskan bahwa tato dapat menjadi cara untuk mengambil kembali kepemilikan atas tubuh dan menjadikan tubuh sebagai alat narasi. Ia bahkan menghubungkan praktik tersebut dengan konsep performativitas Butler: identitas tidak diciptakan melalui satu tindakan tunggal, tetapi melalui praktik yang berulang dan terus mengutip kembali identitas yang ingin ditampilkan.
Hal ini memperlihatkan salah satu ciri penting Straight Edge: identitas personal dan identitas kolektif saling bertaut. Seseorang tidak hanya mengatakan “saya tidak minum” atau “saya tidak menggunakan narkoba”. Ia mengatakan, secara simbolis dan sosial, “saya adalah bagian dari kami”. Tanda X, pakaian, tato, musik, istilah, dan ruang pertunjukan semuanya menjadi bagian dari bahasa budaya yang memungkinkan anggota komunitas saling mengenali. Menariknya, simbol tersebut juga memiliki dua fungsi yang bertentangan. Di satu sisi, simbol Straight Edge membuka pintu komunitas. Orang yang memahami X, simbol, pakaian, dan kode-kode tertentu dapat mengenali sesamanya. Di sisi lain, simbol yang sama dapat menciptakan batas terhadap orang luar. Stewart menunjukkan bahwa banyak simbol tersebut hanya dapat sepenuhnya dipahami oleh komunitas atau “cognoscenti”. Dengan demikian, identitas Straight Edge sekaligus bersifat inklusif dan eksklusif. Di sinilah buku Stewart menjadi lebih kritis daripada sekadar perayaan terhadap Straight Edge. Ia tidak menggambarkan subkultur tersebut sebagai komunitas yang sepenuhnya ideal. Ada ketegangan antara cita-cita egalitarianisme dan praktik eksklusi. Ada usaha untuk menciptakan ruang yang aman bagi perempuan, kelompok seksual minoritas, dan kelompok marginal, tetapi keberhasilannya tidak selalu sempurna. Bahkan dalam bagian yang dirancang sebagai pengantar, Stewart secara eksplisit mengatakan bahwa Straight Edge memiliki kegagalan dalam memperluas komunitasnya ke luar kelompok sendiri.
Musik sebagai pengalaman spiritual
Salah satu argumentasi paling kuat dalam buku ini adalah pembahasan mengenai musik. Stewart tidak melihat musik sekadar sebagai latar belakang kehidupan Straight Edge. Musik justru merupakan salah satu medium utama melalui mana identitas, komunitas, dan pengalaman spiritual dibentuk. Menurut Stewart, musik memiliki kemampuan untuk mengubah manusia pada tingkat emosional, berbicara ketika seseorang tidak mampu menemukan kata-kata, dan menghubungkan seseorang dengan pengalaman transenden atau sesuatu yang sulit dijelaskan. Karena itu, musik Straight Edge tidak dapat dipisahkan dari dimensi spiritual komunitas tersebut. Pertunjukan langsung menjadi sangat penting. Dalam konser hardcore, perbedaan antara musisi dan penonton sering kali menjadi kabur. Band dapat membantu memasang peralatan mereka sendiri, lalu turun menjadi bagian dari penonton setelah pertunjukan. Penonton juga tidak sekadar berdiri pasif di depan panggung, melainkan menjadi bagian dari pertunjukan melalui stage diving, sing along, circle pit, berbagi mikrofon, dan berbagai bentuk interaksi tubuh. Stewart menggambarkan bahwa audiens adalah bagian dari performa, bukan sekadar penonton. Pengalaman tersebut membantu menjelaskan mengapa konser dapat memiliki kualitas yang oleh sebagian anggota disebut spiritual. Sarah, salah seorang informan, menjelaskan bahwa berada bersama orang lain dan memiliki musik yang sama membuat Straight Edge menjadi bagian utama identitasnya. Ia mengatakan bahwa komunitas tersebut menghubungkannya dengan siapa dirinya sekaligus dengan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Lebih eksplisit lagi, Frank dari Manchester mengatakan:
_
“For me I find it at punk shows. Like it can give me an amazing experience, can build me up, help me find me, be me, give me a community and a family...”_ (p. 142).
Kutipan tersebut sangat penting bagi keseluruhan tesis Stewart. Frank tidak mengatakan bahwa konser punk “seperti gereja”. Ia justru mengatakan bahwa pengalaman yang biasanya diasosiasikan dengan agama—penguatan diri, pencarian makna, komunitas, keluarga, dan pengalaman spiritual—ditemukan di ruang yang secara tradisional dianggap sekuler. Karena itu, Stewart menyimpulkan bahwa pengalaman tersebut menunjukkan perlunya membayangkan kembali konsep agama.
Di sini terlihat pengaruh teori Implicit Religion Edward Bailey. Stewart menggunakan konsep ini untuk mencari unsur-unsur yang memiliki fungsi religius dalam kehidupan sekuler. Implicit Religion menurut buku ini berpusat pada tiga hal: commitment, integrating foci, dan intensive concerns with extensive effects. Artinya, peneliti bertanya kepada apakah seseorang berkomitmen, apa yang mengintegrasikan komitmen tersebut ke dalam kehidupan, dan pengalaman apa yang begitu penting sehingga mengubah tindakan, sikap, serta pandangan hidup seseorang. Dengan pendekatan tersebut, Straight Edge tidak perlu disebut “agama” secara langsung. Yang lebih penting adalah melihat fungsi sosial dan eksistensialnya. Jika komunitas, musik, prinsip hidup, dan simbol mampu memberikan makna serta membentuk perilaku secara mendalam, maka pengalaman tersebut layak dipelajari sebagai fenomena yang memiliki kualitas religius, meskipun tidak melibatkan Tuhan.
Agama yang ditolak sekaligus dicari
Paradoks paling menarik dalam buku Stewart adalah bahwa_ Straight Edge_ sering kali sangat kritis terhadap agama, tetapi pada saat yang sama memperlihatkan perilaku yang dapat dibaca melalui kategori religius. Bab ketiga secara khusus membahas hubungan tersebut. Stewart menunjukkan bahwa sebagian Straight Edge menolak agama karena melihatnya sebagai institusi yang mengontrol manusia. Salah satu kutipan lagu XTRMST yang dikutip Stewart bahkan menggambarkan agama sebagai “poison”, “addiction”, dan “high”. Dalam konteks Straight Edge, istilah “poison free” sendiri merupakan bagian dari bahasa yang menolak zat-zat yang dianggap merusak. Namun penolakan terhadap agama tidak berarti penolakan terhadap spiritualitas. Ini merupakan perbedaan yang sangat penting. Sebagian anggota Straight Edge mencari spiritualitas melalui Buddhisme, Hare Krishna, Islam, Gnostisisme, atau bentuk-bentuk spiritual lainnya. Stewart membahas Krishnacore, Dharma Punx, dan Taqwacore sebagai contoh bagaimana punk dan tradisi keagamaan dapat berinteraksi. Ada pula anggota yang menolak agama institusional tetapi menerima gagasan mengenai “faith” secara individual. Salah satu informan, E. D., mengatakan:
“I can put my faith in whatever; myself, friends, family, punk, a deity.” (p. 61).
Pernyataan tersebut menjadi contoh sempurna dari argumen Stewart bahwa agama tidak lagi harus dipahami sebagai sesuatu yang memiliki objek tunggal dan institusi tunggal. Faith dapat tersebar pada diri sendiri, teman, keluarga, musik, komunitas, atau Tuhan. Dalam kehidupan kontemporer, batas antara kategori-kategori tersebut menjadi cair. Stewart kemudian menggunakan istilah “surrogacy” untuk menjelaskan fenomena ini. Konsep tersebut berasal dari Theodore Ziolkowski. Pada awalnya, surrogate berarti sesuatu yang ditempatkan menggantikan agama. Tetapi Stewart memodifikasi konsep tersebut. Ia tidak ingin Straight Edge dipahami sebagai “pengganti inferior” agama. Ia lebih memilih memahami surrogate sebagai sesuatu yang menggantikan fungsi tertentu dan menjadi bentuk baru setelah bentuk lama mengalami perubahan. Dalam konteks ini, Straight Edge dapat menjadi “surrogate” bagi agama karena menyediakan komunitas, keamanan, makna, disiplin, dan orientasi hidup. Namun Straight Edge tidak sekadar meniru agama. Ia juga mengubah sumber otoritas. Jika agama tradisional dapat menempatkan Tuhan sebagai sumber otoritas, Straight Edge cenderung menempatkan individu dan komunitas sebagai sumber tanggung jawab.
Komunitas sebagai “Rumah”
Dimensi komunitas merupakan salah satu bagian yang paling kuat dalam buku ini. Stewart menunjukkan bahwa Straight Edge bukan hanya sebuah identitas individual. Ia menciptakan jaringan sosial dan ruang fisik yang memungkinkan identitas tersebut dipraktikkan. Contoh penting yang digunakan Stewart adalah 924 Gilman Street di Berkeley dan Warzone di Belfast. Tempat-tempat seperti ini bukan sekadar venue musik. Ia menjadi ruang yang memiliki aturan, sejarah, simbol, aktivitas kolektif, dan memori bersama. Salah seorang informan, Carly, menggambarkan Gilman sebagai “home” dan “family”. Ia mengatakan bahwa pengalaman bekerja sebagai sukarelawan di tempat tersebut mengajarinya bagaimana menjadi bagian dari kelompok, menghadapi konflik, tidak menghakimi orang lain, dan membela mereka yang ditindas. Pernyataan ini menunjukkan bahwa ruang subkultural dapat menjalankan fungsi pendidikan moral. Tempat tersebut tidak hanya digunakan untuk menonton konser, tetapi juga membentuk karakter penggunanya. Dalam pengertian ini, komunitas menjadi ruang pembentukan manusia.
Warzone juga memperlihatkan bagaimana ruang punk dapat digunakan untuk aktivitas sosial. Stewart menyebut dukungan terhadap pengungsi, tunawisma, dan hak-hak gay sebagai contoh aktivitas yang dilakukan melalui ruang tersebut. Di sinilah hubungan antara punk, politik, dan agama menjadi semakin menarik. Komunitas Straight Edge tidak harus memiliki doktrin teologis untuk memiliki etika. Etika tersebut diwujudkan melalui cara menggunakan ruang, mengorganisasi pertunjukan, melarang rasisme dan homofobia, menjalankan venue secara sukarela, dan membantu kelompok marginal. Namun lagi-lagi terdapat paradoks. Komunitas yang sangat menekankan keterbukaan juga dapat menjadi eksklusif. Stewart menyebut bahwa Straight Edge kadang terlihat “aloof, judgemental or even unwelcoming to outsiders”. Bahkan terdapat kritik dari informan bahwa sebagian Straight Edge berbicara dan bertindak seolah-olah mereka lebih baik daripada orang lain. Kritik tersebut sangat penting karena memperlihatkan bahwa etika hidup yang dimaksudkan untuk membebaskan dapat berubah menjadi mekanisme penilaian terhadap orang lain. Komitmen untuk hidup bersih dapat menghasilkan superioritas moral. Di sinilah Stewart memperlihatkan bahwa Straight Edge bukan komunitas utopis tanpa kontradiksi.
DIY dan Politik Autentisitas
Prinsip DIY atau Do-It-Yourself menjadi salah satu konsep sentral buku. Dalam budaya punk, DIY berarti menolak ketergantungan pada institusi industri musik, korporasi, dan struktur otoritas yang dianggap mengendalikan produksi budaya. Musik dibuat sendiri, diproduksi sendiri, disebarkan sendiri, dan dipertunjukkan dalam ruang yang dikelola komunitas. Stewart menghubungkan prinsip tersebut dengan pencarian autentisitas. Menjadi autentik berarti tidak hidup hanya berdasarkan norma masyarakat dominan. Straight Edge berusaha menawarkan cara hidup alternatif: tidak minum, tidak menggunakan narkoba, menolak seks kasual, mempertanyakan konsumsi, dan berusaha mengambil kendali atas tubuh serta kehidupan sendiri. Akan tetapi, Stewart juga menunjukkan paradoks kapitalisme. Banyak Straight Edge sangat kritis terhadap perusahaan besar, tetapi tetap menggunakan telepon seluler, komputer, perangkat musik, dan berbagai teknologi yang dihasilkan oleh sistem korporasi. Stewart menyebut hal ini sebagai konflik antara autentisitas dan konsumsi. Kontradiksi ini justru membuat analisis Stewart menarik. Autentisitas ternyata tidak dapat diwujudkan secara murni. Seseorang dapat menolak alkohol dan narkoba, tetapi tetap membeli produk dari perusahaan multinasional. Seseorang dapat menolak kapitalisme tetapi menjual merchandise. Seseorang dapat menolak industri musik tetapi tetap menggunakan teknologi industri untuk merekam dan menyebarkan musik. Dengan demikian, _Straight Edge _bukan berada “di luar” kapitalisme. Ia bernegosiasi dengan kapitalisme. Bahkan keberadaannya sebagian bergantung pada benda-benda yang diproduksi oleh kapitalisme. Stewart tidak menyembunyikan persoalan tersebut. Justru kontradiksi tersebut menjadi salah satu aspek penting dari analisisnya.
Keselamatan Tanpa Tuhan
Bagian paling filosofis buku ini muncul ketika Stewart membahas keselamatan, pengampunan, dan penebusan. Dalam agama tradisional, konsep keselamatan biasanya berkaitan dengan Tuhan, dosa, dosa asal, kehidupan setelah kematian, atau hubungan manusia dengan realitas transenden. Stewart menemukan bahwa kata “saved” juga sering digunakan oleh anggota Straight Edge. Salah seorang informan, S. T. dari Emeryville, mengatakan:
“Your past doesn’t own your future. You are a part of something else now...” (p. 136). Pernyataan tersebut menunjukkan bentuk keselamatan yang sangat duniawi. Yang diselamatkan bukan jiwa dari neraka, melainkan kehidupan dari pola perilaku destruktif. Masa lalu tidak lagi menentukan masa depan. Seseorang dapat mengubah dirinya melalui disiplin dan komunitas. Stewart bahkan menunjukkan bahwa “Straight Edge saved my life” merupakan ungkapan yang sering muncul dalam wawancara. Namun keselamatan tersebut tidak selalu berkaitan dengan kecanduan berat. Salah seorang informan mengakui bahwa ia bahkan tidak berasal dari keluarga yang mengalami kekerasan atau kecanduan, tidak pernah berada di ambang bunuh diri, tetapi tetap merasa bahwa Straight Edge “saved” his life. Ia kesulitan menjelaskan bagaimana hal tersebut terjadi. Justru kesulitan menjelaskan pengalaman itu menjadi menarik. Keselamatan dalam konteks ini merupakan pengalaman perubahan eksistensial yang tidak selalu dapat direduksi menjadi satu peristiwa konkret. Seseorang menemukan komunitas, arah hidup, disiplin, identitas, dan kemungkinan menjadi pribadi yang berbeda. Stewart menyebut proses ini sebagai “delinking spirituality from the supernatural”. Keselamatan tidak lagi membutuhkan Tuhan atau figur penyelamat ilahi. Ia diarahkan pada proses duniawi yang melibatkan otonomi, realisasi diri, kontrol diri, dan pencarian makna. Inilah salah satu kontribusi konseptual paling menarik dari buku ini. Stewart menunjukkan bahwa istilah religius dapat tetap hidup setelah unsur supernaturalnya dilepaskan.
Kekuatan Metodologis Buku
Salah satu kelebihan utama buku Stewart adalah metodologinya yang bersifat etnografis dan berbasis pengalaman. Ia tidak hanya mengandalkan teori tentang punk. Ia berbicara dengan anggota komunitas dan mempertahankan cara mereka berbicara. Stewart menjelaskan bahwa keraguan, pengulangan, jeda, dan kesulitan informan dalam mengartikulasikan gagasan mereka tetap dipertahankan dalam teks karena “how someone says something is as important as what they say”. Pendekatan tersebut membuat buku terasa berbeda dari kajian agama yang hanya membahas doktrin. Di sini agama dibicarakan melalui pengalaman sehari-hari. Seorang informan tidak harus memiliki definisi filosofis tentang spiritualitas. Cukup dengan mengatakan bahwa konser membuatnya merasa “lebih hidup”, menemukan keluarga, atau memperoleh alasan untuk terus menjalani hidup, pengalaman tersebut sudah menjadi data penting. Kekuatan lainnya adalah posisi Stewart sebagai insider. Ia mengetahui kode-kode punk, musik, istilah, praktik, dan sejarah yang mungkin tidak dipahami oleh peneliti dari luar. Namun posisi insider juga tidak dibiarkan tanpa refleksi. Stewart secara terbuka mengakui bahwa ia adalah Straight Edge, anarcho-punk, sekaligus akademisi studi agama. Keterbukaan tersebut merupakan kekuatan karena pembaca dapat mempertimbangkan kemungkinan bias peneliti. Stewart tidak berpura-pura sepenuhnya netral. Ia bahkan menyatakan bahwa buku tersebut berasal dari keyakinannya mengenai kekuatan punk dan Straight Edge sebagai kekuatan positif di dunia.
Selain itu, buku ini berusaha menghindari dominasi perspektif punk yang biasanya berpusat pada figur laki-laki kulit putih terkenal dari kota-kota besar. Stewart secara sadar memasukkan sebanyak mungkin perempuan dan orang kulit berwarna dan menghindari London serta figur “selebritas” punk yang sudah memiliki banyak ruang untuk bercerita. Ia ingin memberi perhatian kepada orang-orang yang berada “in the crowd”, anggota band yang tidak terkenal, pekerja komunitas, dan Straight Edge yang menjalani kehidupan sehari-hari. Pilihan tersebut patut diapresiasi karena mengubah fokus studi punk dari sejarah “bintang” menjadi pengalaman komunitas.
Beberapa Catatan
Problem Definisi Agama
Meskipun memiliki banyak kelebihan, buku ini tidak lepas dari kelemahan. Catatan pertama berkaitan dengan konsep “agama” yang terlalu luas. Stewart memang sangat sadar bahwa kategori agama merupakan konstruksi dan kategori yang problematis. Ia mengkritik pembagian agama dan sekuler yang terlalu kaku. Namun terdapat risiko bahwa jika semua pengalaman yang memberikan makna, komunitas, disiplin, simbol, atau perubahan hidup dianggap memiliki kualitas religius, maka konsep agama menjadi terlalu luas. Misalnya, musik, olahraga, politik, nasionalisme, komunitas sosial, bahkan pekerjaan dapat memberikan identitas dan makna. Jika semuanya disebut “religius”, istilah tersebut berisiko kehilangan daya analitisnya. Stewart mencoba mengatasi persoalan tersebut melalui Implicit Religion, yang menekankan commitment, integrating foci, serta intensive concerns with extensive effects. Namun pembaca tetap dapat bertanya: pada titik mana sesuatu benar-benar menjadi “religius”, dan pada titik mana ia hanya menjadi sangat bermakna? Persoalan tersebut sebenarnya merupakan konsekuensi dari argumen Stewart sendiri. Ia ingin menghapus batas agama/sekuler, tetapi jika batas itu terlalu jauh dihapus, maka kategori agama dapat menjadi terlalu elastis.
Penggunaan Istilah Surrogate
Selain catatan terhadap definisi agama, juga kita perlu melihat istilah “surrogate”. Catatan kedua berkaitan dengan konsep “surrogacy”. Stewart menyadari bahwa konsep surrogate dapat memiliki konotasi negatif karena berarti pengganti dari sesuatu yang dianggap asli. Karena itu, ia berusaha mengubah maknanya menjadi “successor” atau penerus. Namun tetap ada masalah konseptual. Jika Straight Edge dianggap sebagai surrogate agama, muncul pertanyaan apakah agama tradisional masih menjadi standar pembanding utama. Dengan menggunakan agama sebagai model untuk membaca punk, kita berisiko terus menjadikan agama tradisional sebagai ukuran dasar. Padahal tujuan Stewart sebenarnya adalah mengkritik dominasi model tersebut. Dengan kata lain, terdapat paradoks: Stewart ingin menunjukkan bahwa Straight Edge tidak perlu menjadi agama untuk menjalankan fungsi yang diasosiasikan dengan agama, tetapi ia tetap membutuhkan kategori agama untuk menjelaskan apa yang dilakukan Straight Edge. Ini bukan kelemahan fatal, tetapi merupakan ketegangan teoretis yang seharusnya terus dipikirkan pembaca.
Di mana posisi Stewart?
Catatan lain yang tidak luput adalah posisi insider. Kritik ketiga berhubungan dengan posisi Stewart sebagai insider. Posisi ini memberikan keuntungan besar karena memungkinkan akses dan pemahaman yang mendalam. Namun pada saat yang sama, posisi tersebut berpotensi membuat peneliti lebih simpatik terhadap komunitas yang ditelitinya. Hal ini tampak ketika Stewart berkali-kali menekankan potensi positif Straight Edge. Ia tentu tetap menyebut masalah hardliner, eksklusi, konsumsi kapitalis, dan kegagalan memperluas komunitas. Akan
tetapi, keseluruhan narasi tetap cenderung menunjukkan Straight Edge sebagai eksperimen sosial yang produktif. Di satu sisi, keberpihakan tersebut dapat dianggap sebagai bentuk kejujuran akademik. Stewart memang tidak mengklaim dirinya sebagai pengamat netral. Namun dalam sebuah resensi kritis, penting dikatakan bahwa pembaca sebaiknya membedakan antara pengalaman positif informan dan penilaian normatif penulis terhadap Straight Edge.
Generalisasi Straight Edge
Catatan yang tak kalah penting adalah generalisasi. Ini bisa dibaca sebagai sebuah kelemahan. Buku ini merupakan studi etnografis terhadap komunitas tertentu di Amerika Serikat, Inggris, dan Irlandia. Karena itu, kesimpulan mengenai Straight Edge tidak otomatis dapat diterapkan pada semua anggota Straight Edge di seluruh dunia. Bahkan di dalam buku sendiri terdapat pengakuan bahwa Straight Edge bukan kelompok yang homogen. Ada Straight Edge yang atheis, ada yang spiritual, ada yang mengikuti agama tertentu, ada yang melihat Straight Edge sebagai agama, dan ada yang sama sekali tidak menyukai hubungan antara Straight Edge dan agama. Karena itu, pernyataan bahwa Straight Edge merupakan surrogate bagi agama harus dipahami sebagai kemungkinan yang ditemukan dalam pengalaman sebagian anggota, bukan sebagai definisi universal tentang Straight Edge. Stewart sebenarnya cukup berhati-hati dalam hal ini. Ia menggunakan bahasa seperti “many”, “some”, atau “for a number of adherents”. Tetapi kita sebagai pembaca tetap harus berhati-hati ketika mengubah temuan etnografis menjadi kesimpulan umum.
Pembahasan Mengenai Agama Tradisional
Catatan terakhir saya adalah mngnai pembahasan agama tradisional. Stewart juga mengakui bahwa informan dalam penelitiannya memiliki pandangan yang cukup kaku terhadap agama, khususnya gereja Kristen. Ia menyatakan bahwa mereka sering tidak membedakan denominasi, pendekatan teologi, atau perkembangan kekristenan progresif. Stewart bahkan mengakui bahwa sebagian pandangan tersebut bersifat hitam-putih dan dipengaruhi oleh pengalaman pribadi serta keterputusan mereka dari gereja. Pengakuan ini sangat penting, tetapi sekaligus menunjukkan keterbatasan buku ini. Jika Straight Edge dibandingkan dengan “agama” yang dipahami secara terlalu sederhana oleh sebagian informan, maka perbandingannya dapat menjadi tidak seimbang. Gereja Kristen, misalnya, bukan satu entitas homogen. Begitu juga agama-agama lain. Kritik ini terutama penting karena salah satu tujuan buku adalah menunjukkan bahwa Straight Edge dapat menggantikan fungsi agama. Agar argumentasi tersebut benar-benar kuat, pembaca memerlukan gambaran yang lebih kompleks mengenai apa yang sebenarnya “digantikan”. Jika agama tradisional digambarkan terlalu sederhana sebagai institusi yang mengontrol dan memaksa, maka Straight Edge akan terlihat lebih positif secara otomatis.
Kontradiksi Internal Straight Edge
Salah satu hal paling menarik dari buku ini adalah bahwa kelemahan Straight Edge yang ditemukan Stewart sebenarnya memperkuat argumennya. Straight Edge ingin menjadi komunitas egaliter, tetapi memiliki mekanisme pengawasan sosial. Ia menolak otoritas, tetapi memiliki aturan. Ia menolak konsumsi berlebihan, tetapi tetap bergantung pada barang-barang kapitalis. Ia menolak agama sebagai institusi pengontrol, tetapi dapat menghasilkan moralitas yang sangat ketat. Ia ingin terbuka, tetapi simbol dan bahasa komunitasnya dapat membuat orang luar merasa tidak diterima. Komunitas tersebut juga dapat menghasilkan hardliner yang merasa lebih “murni” daripada orang lain. Dalam kasus ekstrem, pengawasan terhadap siapa yang benar-benar “keeping the edge” bahkan dapat menjadi agresif. Stewart mencatat adanya laman yang memonitor apakah orang benar-benar menjaga Straight Edge dan mengingat kasus kelompok hardliner yang begitu agresif sampai polisi di Reno secara legal menyatakan mereka sebagai gang pada 2005. Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa setiap komunitas yang memiliki identitas kuat menghadapi persoalan otoritas. Bahkan jika tidak ada pemimpin formal, norma komunitas tetap dapat menghasilkan hierarki informal. Dalam konteks ini, Straight Edge menjadi contoh yang sangat baik untuk menunjukkan bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa norma hanya karena menolak otoritas formal. Norma akan selalu muncul dalam komunitas. Yang berubah hanyalah sumber dan cara penerapannya.
Lalu Untuk Apa Kita Membaca Buku Ini?
Terlepas dari kritik tersebut, Punk Rock Is My Religion memiliki kontribusi yang penting bagi studi agama. Buku ini menolak asumsi bahwa agama hanya dapat dipelajari melalui institusi agama. Ia mengarahkan perhatian pada pengalaman sehari-hari, budaya populer, musik, tubuh, ruang, dan komunitas. Kontribusi tersebut penting dalam konteks masyarakat modern yang semakin plural. Banyak orang tidak lagi mengidentifikasi diri secara sederhana sebagai anggota satu institusi agama. Namun hal tersebut tidak berarti mereka berhenti mencari makna, komunitas, identitas, moralitas, atau pengalaman transenden. Dalam konteks tersebut, Straight Edge menjadi studi kasus yang menarik karena komunitas ini pada awalnya justru sering bersikap antiagama. Ironisnya, melalui penolakan terhadap agama, mereka membangun praktik yang memiliki sejumlah fungsi yang sebelumnya diasosiasikan dengan agama.
Buku ini juga memperlihatkan bahwa musik tidak boleh direduksi menjadi hiburan. Bagi anggota komunitas tertentu, musik dapat menjadi sumber orientasi hidup. Musik menyatukan orang asing, membentuk memori bersama, menciptakan ruang sosial, menghasilkan simbol, dan memberikan bahasa untuk mengartikulasikan pengalaman yang sulit dijelaskan. Stewart bahkan menolak pandangan bahwa musik populer hanya menghasilkan konsumen pasif. Stewart menekankan bahwa (Straight Edge) konsumen musik tidak selalu merupakan “cultural dopes”. Mereka dapat memilih, menyaring, memproduksi, mendistribusikan, dan mengorganisasi musik di luar perusahaan besar. Label independen seperti Dischord menjadi contoh penting dalam hal ini.
Pada akhirnya, pertanyaan “apakah Straight Edge adalah agama?” mungkin bukan pertanyaan yang paling produktif. Jawaban Stewart cenderung mengarah pada kesimpulan bahwa Straight Edge tidak perlu disebut agama dalam pengertian konvensional. Yang lebih penting adalah bahwa Straight Edge memperlihatkan bagaimana batas antara religius dan sekuler telah menjadi semakin kabur. Dalam pengalaman sebagian pengikutnya, konser dapat menjadi ruang spiritual, musik dapat menjadi medium keselamatan, komunitas dapat menjadi keluarga, tato dapat menjadi simbol identitas, disiplin tubuh dapat menjadi praktik moral, dan punk dapat menjadi sumber makna hidup. Stewart merumuskan persoalan tersebut melalui gagasan bahwa “sacred” dapat ditemukan dalam “profane”, dan “religious” dalam “secular”. Stewart berargumen bahwa pengalaman Straight Edge mengharuskan kita membayangkan kembali konsep agama secara lebih radikal. Karena itu, nilai terbesar buku ini bukan terletak pada keberhasilannya memberikan definisi baru tentang agama, melainkan pada keberhasilannya menunjukkan mengapa definisi lama tidak selalu memadai untuk membaca pengalaman manusia kontemporer. Straight Edge menjadi contoh konkret bahwa manusia dapat menolak institusi agama tetapi tetap membutuhkan makna, komunitas, moralitas, disiplin, simbol, harapan, dan bahkan pengalaman yang mereka sendiri rasakan sebagai spiritual.
Secara spesifik buku ini memberi gambaran dalam dunia akademik, di mana kita dapat membiarkan pengalaman para informan berbicara dan kemudian menggunakan teori untuk membantu memahami pengalaman tersebut. Buku ini menjadi lebih lemah ketika kerangka “religius” terlalu cepat diterapkan pada fenomena yang sebenarnya dapat pula dijelaskan melalui konsep budaya, identitas, politik, komunitas, atau psikologi sosial. Singkatnya, buku ini berhasil membuka pertanyaan, tetapi tidak selalu sepenuhnya menyelesaikan problem konseptual yang dibukanya.
Pada akhirnya, Punk Rock Is My Religion dapat dibaca sebagai sebuah ajakan untuk tidak terburu-buru mengatakan bahwa masyarakat modern telah menjadi sepenuhnya sekuler hanya karena keanggotaan institusi agama menurun. Pengalaman para Straight Edger yang dibahas Stewart justru memperlihatkan kemungkinan lain: manusia dapat meninggalkan institusi agama tanpa meninggalkan kebutuhan untuk percaya, berkomitmen, memiliki komunitas, menemukan keselamatan, dan membangun kehidupan yang dianggap autentik. Dalam pengertian tersebut, punk bukan sekadar musik. Bagi sebagian orang, ia menjadi cara hidup, bahasa identitas, ruang komunitas, sumber etika, dan jalan untuk memahami diri sendiri. Dan di situlah kalimat dalam judul buku memperoleh kekuatannya. “Punk rock is my religion” tidak harus dipahami secara harfiah sebagai deklarasi bahwa punk adalah agama baru. Ia lebih tepat dipahami sebagai ungkapan mengenai sebuah pengalaman: bahwa sesuatu yang lahir dari budaya populer dan pemberontakan dapat mengambil peran yang sangat mendalam dalam kehidupan manusia. Buku ini mengingatkan bahwa mungkin yang berubah bukan kebutuhan manusia terhadap makna, melainkan tempat manusia mencari makna tersebut.
Eventus Ombri Kaho Universitas Bina Nusantara, Bandung-Indonesia [email protected]