Back to Journal
Commentary

Punk (kok) Konferensi?

Konferensi PSN Indonesia ke-7 di Studio Lokananta, Surakarta merangkum wacana kritis tentang subkultur, politik, gender, pengarsipan, hingga spiritualitas.

September 30, 2026·Satrio Rizki Dharma
Punk (kok) Konferensi?

Perhelatan akademis untuk kebudayaan 7th Punk Scholars Network (PSN) Indonesia Conference and Post-Graduate Symposium 2026 secara resmi telah selesai diselenggarakan. Seluruh rangkaian konferensi diselenggarakan selama empat hari, menggabungkan satu hari panel daring serta tiga hari untuk panel secara luring. Mengusung tema " Regimes, Negotiations, Resistance: Power and Popular Music Studies in Southeast Asia", konferensi tahun ini bertempat di kompleks bersejarah Lokananta, Surakarta dengan menghadirkan 18 panel, 75 presenter dari dalam dan luar Indonesia, dan 69 karya tulis ilmiah yang membedah relasi antara musik, subkultur, dan kekuasaan di Asia Tenggara khususnya Indonesia.

Rangkaian konferensi dibuka melalui perjumpaan digital yang menghubungkan para peneliti dan praktisi lintas wilayah secara daring melalui Zoom dan YouTube Live Streaming akun PSN Indonesia pada tanggal 22 September 2026. Panel ini mengusung tema politik suara, identitas ruang, dan subkultur politik, perhelatan ini terbagi menjadi dua panel diskusi yang membedah bagaimana kultur suara bersinggungan dengan kekuasaan serta, bagaimana ruang, identitas dan subkultur mengamplifikasi suara politik warga. Pada sesi ini, panelis juga menyuarakan menolak rezim audisme atas pengabaian aksesibilitas bagi Teman Tuli merupakan sebuah pelanggaran hak. Sesi ini, panelis didampingi juru bahasa isyarat. Sesi pembuka ini berhasil memberikan gambaran menyeluruh tentang fungsi musik dan subkultur sebagai arena dialektika yang inklusif.

Penyelenggaraan luring di Studio Lokananta tanggal 23 September 2026, diawali dengan semangat disobedience atau ketidakpatuhan terhadap hierarki konferensi akademik konvensional. Pada sesi ini dipaparkan pula penjelajahan genre lokal lewat pembongkaran batas sakral-profan pada gamelan yang dilakukan "Artaxiad Gamelan Syndicate". Sesi khusus kolaborasi dengan YAPPIKA membedah konsep legalitas bersama peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan akademisi Universitas Jenderal Soedirman. Riset ini menunjukkan bagaimana praktik memaknai ulang ruang publik di luar kategori legal-ilegal seperti pameran seni di bawah jembatan dan bentuk negosiasi hak sebagai warga negara dalam praktik Do-It-Yourself (DIY) band black metal "Santet". Pada sesi diskusi buku "Aku (Tetap) Punk", penulis membagikan perjalanannya menginternalisasi etos punk hingga menjelma menjadi metodologi pendidikan berbasis kesukaan (Project-Based Learning) di lingkungan akademik.

Hari kedua sesi luring mendalami isu gender, subkultur ekstrem, politik lanskap suara (soundscape), dan estetika visual. Riset tentang band queer punk Malaysia menggunakan musik sebagai medium perlawanan terhadap represi berlapis yang bersumber dari agama dan negara. Diskusi terjalin secara supportif dan inklusif ketika membicarakan wacana gender melalui analisis strategi decolonial feminist grup musik trio perempuan "Voice of Baceprot", kerangka Safe Enough Space untuk mendorong kesetaraan gender dan ruang aman di skena metal Indonesia, dan dekonstrusi mitos heteronormativitas melalui tren media sosial TikTok.

Fenomena Sound Horeg di Jawa Timur pada salah satu panel di hari ketiga mampu membangun diskusi yang mendalam dan menyenangkan antara panelis dan audiens. Fenomena "hiburan rakyat" ini coba dibedah melalui tiga sudut pandang: kerentanan dan keagensian penari perempuan, akumulasi kapital dan legitimasi kultural, serta vibrational citizenship di tengah regulasi desibel pemerintah dan fatwa MUI. Menutup hari ketiga di ranah visual, punk photography dibahas sebagai bentuk kontra-estetika, menyusul presentasi tentang banalisasi teknik cut and paste dalam desain grafis, homologi visual pada skateboard, dan terakhir analisis simbolisme penggunaan balaclava pada album Gelap Gempita karya Sukatani.

Panel berikutnya berfokus pada memori kolektif, aktivisme, dan spiritualitas dalam subkultur. Panel ini membahas estetika noise dan vokal sumbang Paduan Suara Dialita yang beranggotakan para perempuan penyintas genosida 1965 sebagai arsip yang merekam daya hidup dan perlawanan terhadap pelupaan sejarah. Masih berkenaan dengan arsip, diskusi tentang Zine sebagai metode merekam dan mentransmisikan pengetahuan yang lazim dalam subkultur punk. Kabar lain tentang perlawanan masyarakat terekam dalam kajian mengenai Wiji Kendeng yaitu para pemuda penganut ajaran Samin menggunakan tembang macapat tradisional dan musik punk untuk melawan ekspansi pabrik semen di Pegunungan Kendeng. Analisis pembentukan solidaritas neo-tribes antara masyarakat adat dan aktivis lintas sektor dalam mempertahankan tanah ulayat turut melengkapi wacana ini. Panel berikutnya menyoroti musik sebagai perisai identitas dan arena micropolitics. Kajian mencakup evolusi jazz sebagai ruang perlawanan rasial, representasi slow living dan daulat pangan di lagu Nosstress sebagai bentuk perlawanan harian, serta negosiasi ruang pertunjukan ramah anak dan perempuan bagi penggemar musik yang menjadi orang tua (parenthood).

Sesi penutup diwarnai pembahasan persinggungan antara spiritualitas dan musik ekstrem. Bagaimana perpaduan musik keras dan simbol religiusitas ditunjukkan oleh "Purgatory" band metal yang mengusung nilai religious Islam secara eksplisit. Juga bagaimana punk dan agama menjadi jalur negosiasi pemberdayaan anak jalanan lewat Tasawuf Underground. Rangkaian acara diakhiri dengan General Meeting PSN Indonesia yang pada pernyataan akhirnya menegaskan posisi PSN Indonesia adalah milik siapapun yang pernah dan terus bergiat di dalamnya.

Penyelenggaraan perhelatan ini didukung oleh kolaborasi lintas organisasi, melibatkan PSN Global, Lokananta, YAPPIKA, BASIS, Kopi Aloo, Penerbit Semut Api, Telkom University, serta International Association for the Study of Popular Music Southeast Asia (IASPM-SEA). Melalui konferensi ke-7-nya, PSN Indonesia menjadi wadah inklusif dan egaliter bagi akademisi maupun praktisi dan peneliti independen untuk mengeksplorasi budaya populer dari beragam cabang ilmu.

Melalui perpaduan 18 panel tersebut, PSN Indonesia 2026 berhasil membuktikan bahwa musik populer bertindak sebagai arena politik keseharian (micropolitics). Melalui pita kaset, tembang agraris, ritme sound horeg, hingga media alternatif, para pelaku kebudayaan terus merawat memori kolektif, meretas batas hierarki, dan menegaskan otonomi di tengah cengkeraman rezim kekuasaan. Secara praktis keberadaan PSN Indonesia 2026 memainkan perannya dalam merawat ingatan kolektif masyarakat serta memperkuat solidaritas komunitas akademik Indonesia. Forum ini menjadi sarana dalam mempertanyakan narasi-narasi dominan yang dimunculkan oleh rezim, sekaligus membuka ruang imajinasi masa depan bagi demokratisasi budaya dan ekspresi masyarakat di Indonesia.